KHUTBAH JUM’AT[1]

KARAKTER MUSLIM

Oleh : Sukrin Thaib

 Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati Allah…

Pada kesempatan yang berbahagia ini, ijinkan saya selaku khatib mengingatkan utamanya kepada diri saya pribadi dan juga kepada jama’ah pada umumnya, untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Alloh, dengan sebenar-benarnya takwa yaitu ikhlas menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang telah dilarang. Kemudian marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak nikmat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam QS Ibrahim: 34:

 Selanjutnya khatib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah agar melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan, yang biasa kita kenal dengan istilah sholawat dan salam-sejahtera kepada pemimpin kita bersama, teladan kita bersama… imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang yang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Alkisah, ada seorang pemimpin yang kebingungan untuk menempatkan orang yang tepat untuk menempati posisi penting dalam struktur organisasinya. Bingung bukan karena tidak ada orang pintar, cerdas yang ia kenal, bukan pula karena pemimpin tersebut tidak memiliki hak mutlak untuk menentukan siapa yang menempati posisi strategis tersebut. Kegalauan ini lahir lebih disebabkan oleh posisi yang akan ditempati membutuhkan orang yang betul-betul bisa seide dan kalau perlu bisa senafas dengan sang pemimpin. Dipuncak kebingungan sang pemimpin mendapat ide untuk melakukan tes kepatutan dan kelayakan (mirip-mirip dengan yang dilakukan oleh DPR di Indonesia), bedanya adalah testornya dilakukan sendiri oleh sang pemimpin. Sang pemimpin menentukan 3 orang yang akan diuji secara bergiliran face to face dengan sang pemimpin. Sang pemimpin selanjutnya mengajukan 1 saja pertanyaan yang sama kepada masing-masing kandidat. Kandidat pertama ditanya oleh sang pemimpin 1 + 1 berapa, spontan kandidat yang kebetulan seorang matematikawan menjawab 2 pak. Kandidat kedua juga menjawab hal yang sama yaitu 1 + 1 = 2. Tibalah pada kandidat ketiga, ditanya oleh sang pemimpin 1 + 1 berapa? Dengan tenang dan penuh keyakinan kandidat tersebut menjawab, “terserah bapak saja, bapak mau bikin 1+1=2 boleh, 1+1=3 juga iya. Akhirnya sang pemimpin mendapatkan orang yang tepat untuk menempati posisi tersebut.

Jamaah sidang Jum’at yang dirahmati Allah.

Harus kita akui bahwa kisah yang saya sampaikan tadi tidak lepas dari kehidupan kita sebagai komunitas masyarakat yang senantiasa hidup dalam organisasi kecil ataupun besar. Kisah ini menyiratkan karakter manusia yang dengan mudah kita temukan dalam kehidupan kita, yaitu karakter asal bapak senang, karakter penjilat, karakter yang bukan saja lemah secara mental tapi juga karakter yang merusak sendi-sendiri ajaran Islam. Dapat dibayangkan jika fenomena 1+1 = terserah bapak, terjadi dalam persoalan syari’at Islam dan yang menjawab “sama dengan terserah bapak” adalah ulama, orang berilmu yang dijadikan rujukan oleh masyarakat awam, maka dapat dipastikan syari’at Islam akan mengalami pengaburan makna dan akhirnya akan mengalami pergeseran. Haram menjadi sedikit halal, subhat menjadi sangat halal.

Karakter manusia seperti ini, yang digambarkan Allah sebagai orang munafik, dalam Al-Qur’an surat al-Munafiqun ayat 1 Allah berfirman,

“idzaa jaa akal munafiquuna, qooluu,  nashadu innaka larasuulullah, wallahu ya’lamu innaka larasuuluh, wollahu yasyhadu innal munaafiqiina lakaadzibuun”

Artinya: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

Demikian pula dalam ayat :

Artinya: Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik yang menggunakan tabir nifak. Tetapi akhirnya tabir nifak tersebut terkoyak. Dan kesudahan orang-orang munafik itu adalah kehinaan. Di sini orang munafik diserupakan dengan manusia yang tersesat sendirian di padang pasir. Dia berusaha menemukan jalan untuk menyelamatkan dirinya dengan menyalakan api. Tetapi usahanya itu tidak berguna, sehingga ia tetap dalam kebingungan.

Barakallahuli walakum fil qur’anil adzim, wanafa’ni waiyyakum bimaa fiihi minal ayaati wadzikril hakim…aquulu qaulihaadza wastaqfirullahaladzim lii walakum wa lisaairil musliminaa wal muslimat, fastaqfiruhu innahu huwal qafururrahim.

Khutbah Kedua

Seorang lelaki bernama Yunus bin Ya’qub mendatangi imam Ja’far Ash-Shadiq sambil berkata, “berikanlah tanganmu padaku karena aku hendak menciumnya”. Imam Ja’far memberikan tangannya dan lelaki itu pun dengan leluasa menciumnya. Kemudian laki-laki itu melanjutkan permintaannya, “dekatkanlah kepalamu.” Imam mendekatkan kepalanya dan lelaki itu menciumnya. Tak puas sampai disitu, lelaki itu berkata, “berikan kakimu karena aku ingin menciumnya juga.” Imam Shadiq dengan nada tidak senang berkata, “aku bersumpah bahwa setelah mencium tangan dan kepala maka anggota tubuh yang lain tak layak untuk dicium.”

Kisah sederhana di atas mengandung hikmah yang sangat besar untuk dijadikan pelajaran. Setidaknya ada dua point penting yang bisa dijadikan pelajaran. Pertama, islam melarang segala bentuk penjilatan. Kedua, siapapun yang dijilat, hendaklah tidak merasa enak dan mawas diri. Diakhir khutbah ini, marilah kita renungi petuah Ali bin Abi Thalib bahwa, ”Memuji lebih dari yang seharusnya adalah penjilatan.”

Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa bersama-sama.

A’udzubillahiminasyaithonirrojim,
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirobbil’alamin
allahummagh fir lil mu’miniina wal mu’minaat wal muslimiina wal muslimaat al-ahyaa-i minhum wal amwaat innakas samii’un qariibun mujiibud da’wat wa yaa qaadhiyal haajaat

Ya Allah, jadikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala dosa kami,
Hari dimana Engkau singkapkan tabir dari hati kami,
Hari dimana Engkau gantikan segala kegelapan dengan cahaya di hati kami.
Ya Allah, sucikanlah kami dari dosa-dosa,
Dan bersihkanlah diri kami dari segala aib,
Tanamkanlah ketaqwaan di dalam hati kami,
Hiasilah diri kami dengan kesabaran dan kesucian,
Tutupilah diri kami dengan pakaian qanaah dan kerelaan.
Jadikan amal-amal kami sebagai amalan yang tulus hanya kepada-Mu,
Ya Allah, sediakanlah untuk kami sebagian dari rahmat-Mu yang luas,
Berikanlah kami petunjuk kepada ajaran-ajaran-Mu yang terang,
Dan bimbinglah kami kepada kerelaan-Mu yang penuh.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafilakhirati hasanah, waqina ‘adza bannar,

Subhanarobbika robbil ‘izzati ‘amma yasifun, wassalamun’alal mursalin,

Walhamdulillahirobbil’alamin.

 


[1]Masjid Sultan Amai, 6 Januari 2012