A.    Latar Belakang Masalah

Allah telah membekali kita dengan pengetahuan untuk kita ketahui dan pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan agar kita mampu untuk memanfaatkan pengetahuan tersebut bagi kelangsungan hidup manusia. Pengetahuan yang dibekali tidak hanya terbatas pada satu persoalan saja. Kita bisa mempelajari pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu dengan membahas tiga teori, antara lain ; epistemologi, fenomenologi, dan Intusionisme.

Teori epistemologi sebagai pangkal tolak dan pusat diskusi filsafat. Yang menegaskan bahwa pengetahuan di sini harus mempunyai obyek. Sementara itu sesuatu yang menjadi penentu munculnya pengetahuan dalam diri kita adalah kenyataan. Dengan demikian yang namanya pengetahuan adalah harus pasti. Sedangkan teori fenomenologi yang mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Serta teori intusionis mengklaim bahwa matematika berasal dan berkembang di dalam pikiran manusia. Ketepatan dalil-dalil matematika tidak terletak pada simbol-simbol di atas kertas, tetapi terletak dalam akal pikiran manusia.

Oleh karena itu, penulis merasa bahwa pembahasan tentang ketiga teori di atas sangatlah penting untuk di kaji dan disajikan dalam bentuk makalah.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Teori tentang Epistemologi

Secara etimologi epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu epistem yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Jadi epistemologi berarti ilmu yang mengkaji segala sesuatu tentang pengetahuan. Pengetahuan adalah apa yang dikenal atau hasil pekerjaan tahu.

John Locke, filsuf yang amat berpengaruh setelah renaisans Eropa, menjadikan epistemologi sebagai pangkal tolak dan pusat diskusi filsafatnya. Ia menganggap keliru untuk membicarakan metafisika sebelum menyelesaikan teori pengetahuan. Ia memandang masalah-masalah epistemologi harus mendahului masalah-masalah lain.[1] Gazalba selanjutnya menulis bahwa pengetahuan terdiri dari kesatuan antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Jadi pengetahuan di sini harus mempunyai obyek. Sementara itu sesuatu yang menjadi penentu munculnya pengetahuan dalam diri kita adalah kenyataan. Dengan demikian yang namanya pengetahuan adalah harus pasti. Maka menurut Louis O. Katsouf bahwa yang dimaksud dengan mempunyai pengetahuan berarti mempunyai kepastian bahwa apa yang kita nyatakan dalam pernyatan tersebut sungguh benar atau sungguh benar-benar halnya. Dengan demikian dapat ditarik benang merah bahwa seseorang dikatakan mempunyai pengetahuan jika memang dia benar-benar mempunyai kepastian terhadap realitas dan sudah masuk pada wilayah kesadarannya.

Pengetahuan tentu berbeda dengan pendapat. Kalau pengetahuan ukurannya adalah kepastian dan harus disadari, maka tentu saja pengetahuan membutuhkan penalaran. Karena dalam konteks ini pengetahuan merupakan hasil kegiatan akal yang mengolah hasil tangkapan yang tidak jelas yang timbul dari indera, ingatan atau angan-angan.[2] Jadi di sini awal mula peristiwa atau kenyataan yang menjadi sumber pengetahuan tidak harus jelas atau pasti, tapi ketika itu sudah diolah menjadi sebuah pengetahuan maka statusnya harus pasti atau jelas. Sementara pendapat adalah hasil kesimpulan sementara atas peristiwa yang kita alami, baik dari penglihatan atau ingatan tertentu yang kita punyai. Bisa jadi apa yang dilihat oleh mata kita adalah sesuatu yang menipu kita.

Dalam ranah filsafat, dikenal banyak aliran filsafat yang mengemukakan pandangan yang beragam tentang teori pengetahuan. Yaitu:

Pertama, rasionalisme. Aliran ini berpendapat bahwa sumber pengetahuan berasal dari rasio. Akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Artinya pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Bapak dalam aliran ini adalah Rene Descartes (1596-1650) yang terkenal dengan jargonnya “aku berpikir maka aku ada”. Ia menolak tradisi abad pertengahan yang mengatakan bahwa sumber pengetahuan adalah wahyu Ilahi (teosentrisme). Baginya, manusia dapat mencapai pengetahuan dengan rasionya, sekligus menjadikannya pusat penyelidikan.

Kedua, empirisme. Kata ini berasal dari kata Yunani Empirikos yang bersal dari kata empiria, artinya pengalaman. Aliran ini menganggap bahwa sumber dan berlakunya pengetahuan ialah aspek empiri dari pengalaman.[3] Tokoh-tokohnya banyak yang berasal dari daratan Inggris. Di antaranya adalah John Locke (1632-1704). Menurut Locke, akal hanyalah secarik kertas tanpa tulisan (tabula rasa) yang menerima hal-hal dari pengalaman. Satu-satunya obyek pengetahuan adalah gagasan yang timbul karena pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection). Maksud dari teori ini adalah bahwa ketika manusia lahir jiwanya sebenarnya kosong dan bersih, belum terisi oleh pengetahuan apapun. Lambat laun pengalamannya telah mengisi jiwanya yang kosong tersebut, kemudian seseorang tadi mempunyai pengetahuan. Manusia tidak membawa ide bawaan, sumber pengetahuan adalah pengamatan yang menghasilkan kesan-kesan (impression) yang diterima langsung dari pengalaman, dan ide-ide yang merefleksikan atau mengggambarkan kembali dari kesan-kesan itu.[4]

Ketiga, intuisionisme. Aliran ini menolak pengetahuan yang berdasarkan pemikiran, menganggap hakikatnya tidak teliti dan tidak sehat. Tokoh aliran ini adalah Henry Bergson (1859-1941). Menurut Bergson obyek-obyek yang kita respon itu adalah obyek yang selalu berubah. Sementara akal hanya bisa menangkap dan memahami secara penuh manakala ia mengkonsentrasikan dirinya pada obyek itu. Akal hanya mampu memahami bagian–bagian dari obyek, kemudian bagian-bagian itu digabungkan oleh akal. Itu tidak sama dengan pengetahuan yang menyeluruh tentang obyek itu. Jelasnya apa yang ditangkap oleh indera maupun akal adalah pengetahuan yang diskursif. Pengetahuan diskursif ini, menurut Bergson, diperoleh melalui penggunaan simbol-simbol yang mencoba mengatakan pada kita mengenai sesuatu dengan jalan berlaku sebagai terjemahan bagi sesuatu itu. Jadi ini tergantung dari perspektif atau sudut pandang yang kita miliki. Oleh karena itu, untuk memperoleh pengetahuan yang benar-benar menyeluruh dibutuhkan yang namanya intuisi.[5] Intuisi inilah yang bisa menghasilkan pengetahuan yang menyeluruh dan komprehensif. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu. Jadi pengetahuan yang diperoleh adalah langsung secara intuitif. Karena dengan pola yang demikian, maka pengetahuan yang diterima tidak berupa simbol-simbol atau pelukisan.[6]

Keempat, positivisme. Dalam pandangan aliran ini, segala sesuatu harus dapat diverivikasi, harus jelas ukuran-ukuran yang logis dan rasional, dapat dibuktikan dan diuji secara ilmiah melalui observasi. Tokohnya adalah August Comte (1798-1857). Ia berpendapat bahwa indera memang amat penting untuk memperoleh pengetahuan tapi harus dipertajam dan dikuatkan dengan alat bantu melalui eksperimen.[7]

Kelima, skeptisisme. Skeptisisme adalah paham yang mengingkari akan adanya pengetahuan yang sesungguhnya tentang adanya pengetahuan. Menurut Gazalba, paham ini dapat menyelesaikan masalah-masalah teori pengetahuan dengan mengingkari masalah-masalah itu sendiri. Menurut aliran ini pada dasarnya tidak ada cara untuk mengetahui bahwa kita mempunyai pengetahuan. Hal ini didasarkan pada dua unsur (1) kenisbian penginderaan; dan (2) adanya kesepakatan yang sesungguhnya mengenai apa yang merupakan halnya dan bukan halnya.[8]

Keenam, idealisme. Aliran ini menyatakan bahwa yang ada sebenarnya adalah ide-ide. Berkeley mengatakan bahwa hanya ide cita kita saja yang nyata. Dalilnya yang terkenal adalah “esse est percipi”, ada ialah ada dalam tanggapan. Yang kita ketahui hanyalah bagaimana suatu objek itu kita tanggap, bukan objek itu sendiri. Karena itu kita tidak mungkin mengetahui bagaimana objek menurut dirinya sendiri.[9]

 B.     Teori tentang Fenomenologi

Fenomenologi adalah gerakan filsafat yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859 – 1838). Salah satu arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad ke-20. Sebut saja para filsuf seperti Ernst Cassier (neo-Kantianisme), Mc.Taggart (idealisme), Fregge (logisisme), Dilthey (hermeneutika) Kierkergaard (filsafat eksistensial), Derida (poststrukturalisme)—semuanya sedikit banyak mendapat pengaruh dari fenomenologi. Fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai “hal itu sendiri” lepas dari segala presuposisi. Langkah pertamanya adalah menghindari semu konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus mengarahkan pengalaman. Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan kebudayaan, semuanya harus dihindari sebis mungkin. Semua penjelasan tidak boleh dipaksakan sebelum pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam pengalaman itu sendiri.

Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun—apakah itu tradisi metafisika, epistimologi, atau sains. Program utama fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan. Selain itu, fenomenologi juga menolak klaim representasionalisme epistimologi modern. Fenomenologi yang dipromosikan Husserl sebagai ilmu tanpa presuposisi. Ini bertolak belakang dengan modus filsafat sejak Hegel menafikan kemungkinannya ilmu pengetahuan tanpa presuposisi. Presuposisi yang menghantui filsafat selama ini adalah naturalisme dan psikologisme.

Pengaruh fenomenologi sangat luas. Hampir semua disiplin keilmuan mendapatkan inspirasi dari fenomenologi. Psikologi, sosiologi, antropologi, sampai arsitektur semuanya memperoleh nafas baru dengan munculnya fenomenologi. Penyamarataan ilmu-ilmu humaniora dengan ilmu-ilmu mendapatkan tentangan keras dari filsuf-filsuf neo-Kantian yang menginginkan adanya pemilahan, baik sacara metodologis, ontologis, dan epistimologis antara ilmu-ilmu humaniora dan ilmu-ilmu alam. Para Kantian merasa bahwa manusia tidak semata-mata ditentukan oleh hukum maupun bertindak secara rasional semata (animal rationale), melainkan juga memiliki kekayaan batin (emosi, kehendak, disposisi) yang tidak dapat diukur begitu saja dengan model-model ilmu alam. Salah satu neo-Kantian dari Mahzab Marburg bernama Ernst Cassier mengungkapkan konsepnya tentang manusia sebagai animal symbolicum (makhluk simbolik) konsepnya ini menentang konsep manusia yang dideterminasi oleh daya-daya atau stimulan-stimulan eksternal seperti halnya benda-benda fisik. Cassier menolak pandangan naturalisme yang dianut ilmu-ilmu alam (ada realitas material eksternal yang berjalan secara deterministik dan independen dari subjek).

 C.    Teori tentang Intuisionisme

Aliran intuisionisme dipelopori oleh Luitzen Egbertus Jan Brouwer (1881–1966) yang berkebangsaan Belanda. Aliran ini sejalan dengan filsafat umum yang dicetuskan oleh Immanuel Kant (1724-1804). Intusionis mengklaim bahwa matematika berasal dan berkembang di dalam pikiran manusia. Ketepatan dalil-dalil matematika tidak terletak pada simbol-simbol di atas kertas, tetapi terletak dalam akal pikiran manusia. Hukum-hukum matematika tidak ditemukan melalui pengamatan terhadap alam, tetapi mereka ditemukan dalam pikiran manusia.

Keberatan terhadap aliran ini adalah bahwa pandangan kaum intusionis tidak memberikan gambaran yang jelas bagaimana matematika sebagai pengetahuan intuitif bekerja dalam pikiran. Konsep-konsep mental seperti cinta dan benci berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain. Apakah realistik bila menganggap bahwa manusia dapat berbagi pandangan intuitif tentang matematika secara persis sama?

Tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan intuisionisme dalam filsafat matematika antara lain :

  1. Luitzen Egbertus Jan Brouwer (1881 – 1966)

Brouwer dilahirkan di sebuah kota di Overschie, Belanda. Di kalangan teman-temannya, Brouwer sering dipanggil dengan nama “Bertus.” Pada tahun 1897, Brouwer mengikuti kuliah di universitas Amsterdam untuk belajar matematika dan fisika. Salah seorang dosennya, Diederik Korteweg, dosen matematika, kelak memberi pengaruh besar bagi dirinya. Korteweg terkenal karena mengemukakan suatu persamaan yang disebut persamaan Korteweg – de Vries. Dosen lain yang mempengaruhinya adalah Gerrit Mannoury, dosen filsafat. Karya pertama Brouwer adalah rotasi pada ruang empat dimensi di bawah bimbingan Korteweg.
Menurut Brouwer, dasar dari intuisionisme adalah pikiran.

Namun pemikiran-pemikiran yang dicetuskannya banyak dipengaruhi oleh pandangan Immanuel Kant. Matematika didefinisikan oleh Brouwer sebagai aktifitas berpikir secara bebas, namun eksak,suatu aktivitas yang ditemukan dari intuisi pada suatu saat tertentu. Dalam pandangan intuisionisme tidak ada realisme terhadap objek-objek dan tidak ada bahasa yang menjembatani, sehingga bisa dikatakan tidak ada penentu kebenaran matematika diluar aktivitas berpikir. Proposisi hanya berlaku ketika subjek dapat dibuktikan kebenarannya (dibawa keluar dari kerangka pemikiran). Singkat kata, Brouwer mengungkapkan bahwa “tidak ada kebenaran tanpa dilakukan pembuktian”.

Brouwer konsisten dengan falsafahnya. Hal ini dinyatakannya apakah matematika perlu dibenahi agar kompartible atau tidak-kompartible dengan matematika klasik adalah pertanyaan yang kurang penting lagi, dan tidak dijawab. Pandangannya terhadap matematika tradisional, dia menganggap dirinya hanya sekedar menjadi seorang tukang revisi. Disimpulkan, dimana artimatika intusionistik adalah bagian (sub-sistem) dari aritmatika klasik, namun hal ini tidak berlaku untuk analisis.

Untuk analisis, tidak semua analisis klasikal diterima atau dipahami secara intusionistik, tetapi tidak ada analisis intusionistik secara klasik diterima. Brouwer mengambil langkah ini dengan segala konsekuensinya dengan sepenuh hati. Bukan berarti pandangan Brouwer ini tidak ada yang mendukung. Di luar negaranya, Belanda, pandangan ini didukung oleh Herman Weyl. Brouwer memegang prinsip bahwa matematika adalah aktivitas tanpa-perlu-diutarakan (languageless) yang penting, dan bahasa itu sendiri hanya dapat memberi gambaran-gambaran tentang aktivitas matematikal setelah ada fakta.

Hal ini membuat Brouwer tidak mengindahkan metode aksiomatik yang memegang peran utama dalam matematika. Membangun logika sebagai studi tentang pola dalam linguistik yang dibutuhkan sebagai jembatan bagi aktivitas matematikal, sehingga logika bergantung pada matematika (suatu studi tentang pola) dan bukan sebaliknya. Semua itu digunakan sebagai pertimbangan dalam memilah antara matematika dan metamatematika (istilah yang digunakan untuk ‘matematika tingkat kedua’), yang didiskusikannya dengan David Hilbert.

Berdasarkan pandangan ini, Brouwer bersiap merombak kembali teori himpunan Cantor. Ketika upaya ini mulai dilakukan dengan ‘membongkar’ kategori bilangan sekunder (bilangan ordinal tak terhingga/infinite) dan kategori bilangan ordinal infiniti yang lebih besar, tapi juga gagal. Disadari bahwa metodenya tidak berlaku dan tidak dapat menyelesaikan kategori-kategori bilangan lebih tinggi, dan hanya meninggalkan bilangan ordinal terbatas (finite) dan tidak dapat diselesaikan atau terbuka (open-ended) bagi sekumpulan bilangan ordinal tak-terhingga/infinite.
Tetap konsisten dengan pandangan falsafatnya, Brouwer mencoba mengesampingan semua itu dan mau memahami matematika apa adanya. Tidak lama dia juga mau menerima prinsip dalam logika, prinsip tidak termaktub di tengah (PEM/Principle of the Excluded Middle), namun dalam disertasinya dia tetap berpikir bahwa semua itu benar dan sahih namun tidak memberi manfaat, menginterpretasikan p v ד p sebagai ד p → ד p Lewat tulisanannya pada tahun 1908, The Unreliability of The Logical Principles, Brouwer mengformulasikan, dalam istilah-istilah umum, kritiknya terhadap PEM: meskipun dalam bentuk sederhana p v ד p, prinsip yang tidak akan memicu kontradiksi, dimana Brouwer memberikan contoh-contoh, diucapkan, tanpa ada alasan positif untuk menerima bahwa hal itu benar dan sahih.

Inovasi ini memberi intuisionisme mempunyai ruang gerak lebih besar daripada matematika konstruktif aliran-aliran lainnya (termasuk di sini disertasi Brouwer) adalah pilihan-pilihan dalam melihat suatu deret. Banyak diketahui deret-deret bilangan tak-terhingga (atau obyek-obyek matematikal lain) dipilih mendahului yang lainnya oleh setiap matematikawan sesuai keinginan mereka masing-masing. Memilih suatu deret memberi mereka impresi awal secara intuisi menerima obyek yang ditulisnya pada buku yang terbit pada tahun 1914.; prinsip yang membuat secara matematika mudah dikerjakan, prinsip berkesinambungan, yang diformulasikan pada kuliah Brouwer pada tahun 1916.

Tujuan utama memilih deret merupakan rekonstruksi analisis; titik-titik dalam (bidang) kontinuum (bilangan-bilangan nyata) yang diidentifikasi dengan memilih deret yang memenuhi persyaratan kondisi-kondisi tertentu. Memilih berbagai pilihan deret dapat dilakukan dengan menggunakan alat uang disebut dengan ‘spread’, yang mempunyai fungsi mirip dengan analisis klasik Cantorian, dan awalnya Brouwer menggunakan istilah ‘gabung’ (‘himpunan’) untuk berbagai spread. Guna mengukuhkan teori spread dan teori titik-titik ini yang digunakan sebagai dasar ini, termaktub dalam dua makalah yang diterbitkan pada tahun 1918/1919, Founding Set Theory Independently of the Principle of the Excluded Middle.

  1. Arend Heyting (1898-1980)

Di lain hal, murid Brouwer yang memiliki pengaruh besar pada perkembangan intuisionisme filsafat matematika adalah Arend Heyting. Heyting membangun sebuah formalisasi logika intuisionisme yang sangat tepat. Sistem ini dinamakan ”Predikat Kalkulus Heyting”. Heyting menegaskan bahwa dari asumsi metafisika yang pokok dalam kebenaran realism-logika klasik, bahasa matematika klasik adalah pengertian faktor-faktor objektivitas syarat-syarat kebenaran yang terbaik. Semantic matematika klasik menggambarkan suatu kondisi dalam pernyataan benar atau salah. Semantic seperti ini tidak tepat untuk intuisinisme. Sebagai pengganti, bahasa intuisionisme seharusnya dimengerti dalam faktor-faktor syarat-syarat penyelesaian. Semantic akan menggambarkan suatu perhitungan seperti sebuah penyelesaian kanonikal untuk setiap permasalahan.

Heyting mempunyai andil dalam pandangan Brouwer mengenai kelaziman kontruksi mental dan down playing bahasa dan logika. Dalam buku “Intuitionism” (1956: 5) dia mengemukakan pendapat Brouwer, bahasa adalah media tidak sempurna untuk mengkomunikasikan konstruksi nyata matematika. System formalnya adalah dirinya sendiri sebagai sebuah legitimasi konstruksi matematika, tetapi satu yang tidak diyakini system formal menggambarkan secara utuh domain pemikiran matematika. Pada suatu penemuan metode baru memungkinkan kita untuk memperluas system formal. Heyting menegaskan logika bergantung pada matematika bukan pada yang lain. Oleh karena itu, Heyting tidak bermaksud pekerjaannya pada logika untuk menyusun pertimbangan intuisionistik.

  1. Sir Michael Anthony Eardley Dummett (1925 – sekarang)

Mengingat kembali Brouwer dan Heyting yang mengatakan bahasa merupakan media tidak sempurna untuk komunikasi konstruksi mental matematika. Keduanya, logika menyangkut bentuk yang berlaku untuk penyebaran media ini dan tentu saja focus langsung pada bahasa dan logika telah jauh berpindah dari permasalahan yang seharusnya. Sebaliknya pendekatan utama Dummett, matematika dan logika adalah linguistic dari awal. Filosofinya lebih interest pada logika intuisionistik daripada matematika itu sendiri. Seperti Brouwer, tetapi tidak seperti Heyting, Dummet tidak memiliki orientasi memilih. Dummet mengeksplorasi matematika klasik dengan menggunakan bentuk pemikiran yang tidak valid pada suatu jalan legitimasi penguraian pernyataan alternatifnya. Ia mengusulkan beberapa pertimbangan mengenai logika adalah benar yang pada akhirnya harus tergantung pada arti pertanyaan. Ia juga mengadopsi pandangan yang diperoleh secara luas, yang kemudian disebut sebagai terminologi logika.

Dummet menegaskan bahwa arti suatu pernyataan tidak bisa memuat suatu unsur yang tidak menunjukkan penggunaannya. Untuk membuatnya, harus berdasarkan pemikiran individu yang memahami arti tersebut. Jika dua individu secara bersama setuju dengan penggunaan pernyataan yang dibuat, maka mereka pun menyetujui artinya. Alasannya bahwa arti pernyataan mengandung aturan instrumen komunikasi antar individu. Jika seorang individu dihubungkan dengan simbol matematika atau formula, dimana hubungan tersebut tidak berdasar pada penggunaan, kemudian dia tidak dapat menyampaikan muatan tersebut dengan arti simbol atau formula tersebut, maka penerima tidak akan bisa memahaminya.
Acuan arti pernyataan matematika secara umum, harus mengandung kapasitas untuk menggunakan pernyataan pada alur yang benar. Pemahaman seharusnya dapat dikomunikasikan kepada penerima. Sebagai contoh, seseorang mengerti ekspresi yang ada dalam bahasa “ jika dan hanya jika”

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

    1. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji tentang seluk beluk pengetahuan, mulai dari pengertian, asal-usul, metode sampai pada sahnya kebenaran pengetahuan itu sendiri. Terdapat banyak metode guna mencari pengetahuan. Di antaranya: empirisme, rasionalisme, intuisionisme, skeptisisme dan positivisme. Epistemologi sangat diperlukan karena dari situlah pengetahuan manusia berasal.
    2. Fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai “hal itu sendiri” lepas dari segala presuposisi.
    3. Intusionis mengklaim bahwa matematika berasal dan berkembang di dalam pikiran manusia. Ketepatan dalil-dalil matematika tidak terletak pada simbol-simbol di atas kertas, tetapi terletak dalam akal pikiran manusia. Hukum-hukum matematika tidak ditemukan melalui pengamatan terhadap alam, tetapi mereka ditemukan dalam pikiran manusia.

B.     Saran

Diakui bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari aspek penulisan maupun isi (content) makalah ini. Oleh karena itu, kontribusi pemikiran berupa kritik konstruktif penulis sangat harapkan demi penyempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Malaky, Ekky, 2001, Filsafat Untuk Semua, Jakarta: Lentera

Ash Shadr, M. Baqir, 1994, Falsafatuna, Bandung: Mizan

Gazalba, Sidi, 1991, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang

Katsouf, O. Louis, 2004, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

Tafsir, Ahmad, 2005, Filsafat Umum; akal dan hati sejak Thales sampai Chapra, Bandung: PT. Rosda Karya

Suriasumantri, S. Jujun, 2005, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan


[1] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta : Bulan Bintang, 1991), hal. 13.

[2] Louis O. Katsouf, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2004), h.

[3] Sidi Gazalba, Op.Cit., hal. 25.

[4] Ekky Al Malaky, Filsafat Untuk Semua, (Jakarta : Lentera, 2001), hal. 30.

[5] Louis O. Katsouf, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2004), hal. 141.

[6] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005), hal. 53.

[7] Ekky Al Malaky, Filsafat Untuk Semua, (Jakarta : Lentera, 2001), hal. 31.

[8] Louis O. Katsouf, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2004), hal. 147.

[9] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta : Bulan Bintang, 1991), hal. 32-33.